Di kala jiwaku tak terbatas
Hai Kamu,,pernahkan merasakan kejahatan ??? ah bukan itu yang aku maksud, terlalu seolah suatu kekerasan yang sadis. Mungkin lebih baiknya pernahkan kamu meras sakit hati ??? ups lebih-lebih ini juga sepertinya masih kurang tepat. Jadi mungkin begini saja, pernahkan kamu merasa kesal ?, dongkol ?, dan benar-benar ingin marah ?. Mengesalkan sekali !, sangat mengesalkan ketika perlakuan kita tak ada yang salah tapi sesorang di sana aneh sekali dengan tingkahnya dan membuat jengkel sendiri yang tiba-tiba menjadi korban. Tahukah kamu bahwa marah itu membuat kita lelah dan tidak ada manfaatnya. Begitu banyak saluran syaraf yang bekerja ketika kita marah. Jadi sebenarnya buat apa marah-marah tanpa sebab ? Belum lagi si korban penyeban kemarahan, kasihan sekali dia, tidak tahu apa-apa malah kena semprot.
Kemarahan tidak akan menyelesaikan masalah. Bagaimana dengan pendapatmu ? karena marah membuat mood jadi tidak baik, malas bekerja, otak sulit berpikir apalagi untuk menyelesaikan masalah.Selain hati ini menjadi berat dan gelisah, masalah itu sendiri pun tidak juga ditemukan titik terangnya. Rugi bukan main kan teman ... ?
Dan tidaklah sama antara kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah menjadi teman yang setia. Jadi bagaimana pun dan seperti apapun kemarahan, ketidaksenangan apa yang kamu rasakan dari orang lain saat kamu merasa benar-benar tidak ada kesalahan kepadanya tidaklah perlu kamu membalasnya sama. Karena bagi kamu yang membalasnya dengan hal baik sesungguhnya itu adalah untuk dirimu sendiri, dan bagi kamu yang membalasnya dengan kejahatan maka akan menimpa dirinya sendiri dan hanya kepada Tuhan-lah kita kembali.
Jadikan semua itu seperti harmoni yang selaras dan seimbang, yang melengkapi dari lawan sesuatu dari sesuatu yang ada. Kebencian dan kemarahan-memafkan keduanya menjadi hal yang melengkapai. Seperti halnya Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya, dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya begitulah ketentuan yangg maha perkasa lagi maha mengetahui.



Sundak, sebuah pantai di wilayah kabupaten Gunung Kidul, tepatnya di desa Sidoharjo kecamatan Tepus. Berada di jajaran pantai selatan berderet dengan pantai Kukup, Krakal, Drini, Sepanjang dan Pantai Baron. Pemandangan alam yang sangat indah melengkapi pemandangan-pemandangan alam lainnya yang ada di Indonesia. Kekuasan Tuhan yang tiada pernah tertandingi, tak mampu menandingi keindahan alam buatan manusia. Ya, karena manusia seharusnya tak pernah berhenti bersyukur atas segala apa yang ada di bumi ini. Mensyukuri tanpa merusak itu akan lebih baik, daripada tidak mesyukuri ditambah lagi merusak bahkan tidak ikut menjaga dan melingungi keindahan alam yang begitu murahnya sampai mata kita pun mampu melihatnya.
Lembaran pasir putih yang terhampar di sepanjang bibir pantai, menanti sapaan hangat yang ramah dari ombak yang berlarian mengharapkan sapaan salam pertama bak rindu yang teramat dalam untuk kami yang selalu mencoba mensyukuri keindahan alam ini. Memberikan kenyamanan mata yang memandang. Semilir angin membelai dedaunan melambai di ujung dahan-dahan yang tumbuh mengitari pantai menyejukkan hati para pencari kedamaian.
Hamparan bibir pantai bak senyum lengkung indahnya, karang-karang mungil tempat bermain biota laut nan menggemaskan. Karang yang berdiri kokoh seolah penjaga Pantai Sundak nan kokoh dan pemberani. Perbukitan kapur di latar belakang pantai yang menjulang menambah keelokan pertemuan laut dan daratan pesisir selatan pulau Jawa.
Sundak, yang bermula dari pertarungan antara antara Asu (dalam bahasa Jawa); Anjing (dalam bahasa Indonesia) dan Landak. Pergelutan yang meninggalkan jejak bagi penduduk sekitar akan adanya sebuah gua dengan sumber air tawar di dalamnya memberikan kesan yang tak terlupakan samapai pada detik ini.
Nama Sundak ternyata mengalami evolusi yang bukti-buktinya bisa dilacak secara geologis. Di bagian pinggir barat pantai terdapat masjid dan ruang kosong yang sekarang dimanfaatkan sebagai tempat parkir. Sementara di sebelah timur terdapat gua yang terbentuk dari batu karang berketinggian kurang lebih 12 meter. Memasuki gua, akan dijumpai sumur alami tempat penduduk mendapatkan air tawar.
Wilayah yang diuraikan di atas sebelum tahun 1930 masih terendam lautan. Konon, air sampai ke wilayah yang kini dibangun masjid, batu karang yang membentuk gua pun masih terendam air. Seiring proses geologi di pantai selatan, permukaan laut menyusut dan air lebih menjorok ke laut. Batu karang dan wilayah di dekat masjid akhirnya menjadi daratan baru yang kemudian dimanfaatkan penduduk pantai untuk aktivitas ekonominya hingga saat ini.
Ada fenomena alam unik akibat aktivitas tersebut yang akhirnya menjadi titik tolak penamaan pantai ini. Jika musim hujan tiba, banyak air dari daratan yang mengalir menuju lautan. Akibatnya, dataran di sebelah timur pantai membelah sehingga membentuk bentukan seperti sungai. Air yang mengalir seperti mbedah (membelah) pasir. Bila kemarau datang, belahan itu menghilang dan seiring dengannya air laut datang membawa pasir. Fenomena alam inilah yang menyebabkan nama pantai menjadi Wedibedah (pasir yang terbelah).
Perubahan nama berlangsung beberapa puluh tahun kemudian. Sekitar tahun 1976, ada sebuah kejadian menarik. Siang hari, seekor anjing sedang berlarian di daerah pantai dan memasuki gua karang bertemu dengan seekor landak laut. Karena lapar, si anjing bermaksud memakan landak laut itu tetapi si landak menghindar. Terjadilah sebuah perkelahian yang akhirnya dimenangkan si anjing dengan berhasil memakan setengah tubuh landak laut dan keluar gua dengan rasa bangga. Perbuatan si anjing diketahui pemiliknya, bernama Arjasangku, yang melihat setengah tubuh landak laut di mulut anjing. Mengecek ke dalam gua, ternyata pemilik menemukan setengah tubuh landak laut yang tersisa. Nah, sejak itu, nama Wedibedah berubah menjadi Sundak.
Tak disangka, perkelahian itu membawa berkah bagi penduduk setempat. Setelah selama puluhan tahun kekurangan air, akhirnya penduduk menemukan mata air. Awalnya, si pemilik anjing heran karena anjingnya keluar gua dengan basah kuyup. Hipotesanya, di gua tersebut terdapat air dan anjingnya sempat tercebur ketika mengejar landak. Setelah mencoba menyelidiki dengan beberapa warga, ternyata perkiraan tersebut benar. Jadilah kini, air dalam gua dimanfaatkan untuk keperluan hidup penduduk. Dari dalam gua, kini dipasang pipa untuk menghubungkan dengan penduduk. Temuan mata air ini mengobati kekecewaan penduduk karena sumur yang dibangun sebelumnya tergenang air laut.
Jika dikatakan kondisi tahun 1930 saja seperti yang dikatakan di atas, dapat diperkirakan kondisi ratusan tahun sebelumnya. Tentu sangat banyak organisme laut yang memanfaatkan bagian bawah karang yang kini menjadi gua dan wilayah yang kini menjadi daratan. Karenanya, banyak arkeolog percaya bahwa sebagai konsekuensi dari proses geologis yang ada, banyak organisme laut yang tertinggal dan kini tertimbun menjadi fosil. Soal fosil apa yang ditemukan, memang hingga kini belum banyak penelitian yang mengungkapkan.
Selain menawarkan saksi bisu sejarahnya, Sundak yang menawarkan suasana malam yang menyenangkan. Menikmati angin malam dan bulan sambil memesan ikan mentah untuk dibakar beramai-ramai bersama teman seperti halnya saya dan kawan-kawan yang menikmati ikan bakar dan ikan goreng, dengan cah kangkung hijau yang lezat dilengkapi dengan sambal hijau dan sambal kecap manis terasa lengkap ketika penawarnya disajikan dengan percuma yaitu teh manis yang hangat yang kemudian diperhias dengan suasana malam yang semakin gelap dengan cahaya lampu dari sisi pantai yang begitu romantis.
Menyusuri jalan yang berkelok-kelok dengan perasaan takut sesak ramai dipenuhi kendaraan besar. Aku yang tidak terbiasa mengendarai motor dengan jalan yang selama kurang lebih dua jam dengan mengendarai roda dua itu jarang sekali ditemukan jalan datar. Meskipun demikian, sesampainya disana aku sangat senang. Aku kabarkan kepada semuanya, kepada karang, kepada ombak, kepada matahari, kepada angin, kepada pepohonan hijau, dan kepada pasir yang tak ingin dia membiarkanku pergi, serta kepada air laut yang jernih membasuh menyejukkan tubuh yang penuh dengan kepenatan.
Sungguh hari ini merasa senang dan segar kembali. Sahabat yang meemaniku rasanya mereka sangat mengerti apa yang sedang aku rasakan. Aku pun merasa bersyukur sampai saat ini Tuhan memberiku kesempatan dengan pendengaranku, penglihatanku dan kemampuanku untuk menjumpai pantai ini.
Perjalanan berlanjut dan berhenti sejenak di “Bukit Bintang” di pertengahan lamanya perjalan yang aku tempauh dari pertama hingga aku bisa merebahkan badanku di rumah keduaku ini. Antara pukul 20.40 WIB aku seolah berada di angkasa. Berada ditengah-tengah kilauan cahaya bintang yang memancar keseluruh tubuhku. Panorama indah ini kami temukan di atas bukit dengan lampu-lampu kota yang berserakan, berkedip seolah seperti bintang yang begitu dekat denganku, dan berharap aku mampu memetiknya dan membawa pulang untuk menemani tidurku saat gelap datang. Tidak begitu lama karena waktu yang semakin larut, aku pun kembali unuk menyusuri jalan dan kembali pulang dengan aktivitas rutin.
Belajar dari alam yang indah, seperti belajar dengan ditemani coklat yang manis dan takkan pernah bosan. Menjadikan semua sebagai pelajaran yang patut untuk dibenahi, disyukuri dan dijaga. Semoga akan aku temui kekayaan alam lainnya dengan kesempatan untuk memandang keindahan-keindahan-Mu yang lain.
maafkan aku bunda...
atas ucapanku yang menyakitimu
atas sikapku yang mengecewakanmu
atas perbuatanku yang menyusahkanmu
atas mauku yang selalu menuntutmu
maafkan aku bunda......
jika selama ini aku belum bisa buatmu bahagia
jika selama ini aku belum bisa jadi yang kau pinta
tapi sungguh bunda........
AKU SANGAT SAYANG padamu
Aku berjanji,
suatu saat nanti
aku akan bawa kebahagian pada'mu
aku akan jadi anak kebangganmu
dan akan aku katakan pada seluruh dunia
bahwa,
engkaualah BUNDA terbaikku..
oleh Fifit NTu FitRi pada 21 Januari 2011 jam 11:47
"Ayah, ayah” kata sang anak…
“Ada apa?” tanya sang ayah…..
“aku capek, sangat capek …
aku capek karena aku belajar mati matian untuk mendapat nilai bagus sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek …aku mau menyontek saja!
aku capek. sangat capek …
aku capek karena aku harus terus membantu ibu membersihkan rumah, sedang temanku punya pembantu, aku ingin kita punya pembantu saja! …
aku capek, sangat capek … aku cape karena aku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung …aku ingin jajan terus! …
aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati …
aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman teman ku, sedang teman temanku seenaknya saja bersikap kepada ku …
aku capek ayah, aku capek menahan diri …aku ingin seperti mereka…
mereka terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka ayah ! .. ”
sang anak mulai menangis…
Kemudian sang ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata
” anakku ayo ikut ayah, ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu ”, lalu sang ayah menarik tangan sang anak
kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang …
lalu sang anak pun mulai mengeluh
” ayah mau kemana kita?? aku tidak suka jalan ini, lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. badanku dikelilingi oleh serangga, berjalanpun susah krn ada banyak ilalang… aku benci jalan ini ayah” …
sang ayah hanya diam.
Sampai akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu kupu, bunga bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang …
“Wwaaaah… tempat apa ini ayah? aku suka! aku suka tempat ini !”
sang ayah hanya diam dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau.
“ Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah” ujar sang ayah, lalu sang anak pun ikut duduk di samping ayahnya.
” Anakku, tahukah kau mengapa di sini begitu sepi? padahal tempat ini begitu indah …?”
” Tidak tahu ayah, memangnya kenapa?”
” Itu karena orang orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tau ada telaga di sini, tetapi mereka tidak bisa bersabar dalam menyusuri jalan itu ”
” Ooh… berarti kita orang yang sabar ya yah? alhamdulillah”
” Nah, akhirnya kau mengerti”
” Mengerti apa? aku tidak mengerti”
” Anakku, butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran dalam kujujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan agar kita mendapat kemenangan, seperti jalan yang tadi… bukankah kau harus sabar saat ada duri melukai kakimu, kau harus sabar saat lumpur mengotori sepatumu, kau harus sabar melawati ilalang dan kau pun harus sabar saat dikelilingi serangga… dan akhirnya semuanya terbayar kan? ada telaga yang sangatt indah.. seandainya kau tidak sabar, apa yang kau dapat? kau tidak akan mendapat apa apa anakku, oleh karena itu bersabarlah anakku”
” Tapi ayah, tidak mudah untuk bersabar ”
” Aku tau, oleh karena itu ada ayah yang menggenggam tanganmu agar kau tetap kuat … begitu pula hidup, ada ayah dan ibu yang akan terus berada di sampingmu agar saat kau jatuh, kami bisa mengangkatmu, tapi … ingatlah anakku… ayah dan ibu tidak selamanya bisa mengangkatmu saat kau jatuh, suatu saat nanti, kau harus bisa berdiri sendiri … maka jangan pernah kau gantungkan hidupmu pada orang lain, jadilah dirimu sendiri … seorang pemuda muslim yang kuat, yang tetap tabah dan istiqomah karena ia tahu ada Allah di sampingnya … maka kau akan dapati dirimu tetap berjalan menyusuri kehidupan saat yang lain memutuskan untuk berhenti dan pulang … maka kau tau akhirnya kan?”
” Ya ayah, aku tau.. aku akan dapat surga yang indah yang lebih indah dari telaga ini … sekarang aku mengerti … terima kasih ayah, aku akan tegar saat yang lain terlempar ”
Sang ayah hanya tersenyum sambil menatap wajah anak kesayangannya. “Ayah, ayah” kata sang anak…“Ada apa?” tanya sang ayah…..“aku capek, sangat capek …aku capek karena aku belajar mati matian untuk mendapat nilai bagus sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek …aku mau menyontek saja!aku capek. sangat capek …aku capek karena aku harus terus membantu ibu membersihkan rumah, sedang temanku punya pembantu, aku ingin kita punya pembantu saja! …aku capek, sangat capek … aku cape karena aku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung …aku ingin jajan terus! …aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati …
...aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman teman ku, sedang teman temanku seenaknya saja bersikap kepada ku …aku capek ayah, aku capek menahan diri …aku ingin seperti mereka…mereka terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka ayah ! .. ”sang anak mulai menangis…Kemudian sang ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata” anakku ayo ikut ayah, ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu ”, lalu sang ayah menarik tangan sang anakkemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang …
lalu sang anak pun mulai mengeluh” ayah mau kemana kita?? aku tidak suka jalan ini, lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. badanku dikelilingi oleh serangga, berjalanpun susah krn ada banyak ilalang… aku benci jalan ini ayah” …sang ayah hanya diam.Sampai akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu kupu, bunga bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang
…“Wwaaaah… tempat apa ini ayah? aku suka! aku suka tempat ini !”sang ayah hanya diam dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau.“ Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah” ujar sang ayah, lalu sang anak pun ikut duduk di samping ayahnya.” Anakku, tahukah kau mengapa di sini begitu sepi? padahal tempat ini begitu indah …?”” Tidak tahu ayah, memangnya kenapa?”” Itu karena orang orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tau ada telaga di sini, tetapi mereka tidak bisa bersabar dalam menyusuri jalan itu ”” Ooh… berarti kita orang yang sabar ya yah? alhamdulillah”” Nah, akhirnya kau mengerti”” Mengerti apa? aku tidak mengerti””
Anakku, butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran dalam kujujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan agar kita mendapat kemenangan, seperti jalan yang tadi… bukankah kau harus sabar saat ada duri melukai kakimu, kau harus sabar saat lumpur mengotori sepatumu, kau harus sabar melawati ilalang dan kau pun harus sabar saat dikelilingi serangga… dan akhirnya semuanya terbayar kan? ada telaga yang sangatt indah.. seandainya kau tidak sabar, apa yang kau dapat? kau tidak akan mendapat apa apa anakku, oleh karena itu bersabarlah anakku”” Tapi ayah, tidak mudah untuk bersabar ””
Aku tau, oleh karena itu ada ayah yang menggenggam tanganmu agar kau tetap kuat … begitu pula hidup, ada ayah dan ibu yang akan terus berada di sampingmu agar saat kau jatuh, kami bisa mengangkatmu, tapi … ingatlah anakku… ayah dan ibu tidak selamanya bisa mengangkatmu saat kau jatuh, suatu saat nanti, kau harus bisa berdiri sendiri … maka jangan pernah kau gantungkan hidupmu pada orang lain, jadilah dirimu sendiri … seorang pemuda muslim yang kuat, yang tetap tabah dan istiqomah karena ia tahu ada Allah di sampingnya … maka kau akan dapati dirimu tetap berjalan menyusuri kehidupan saat yang lain memutuskan untuk berhenti dan pulang … maka kau tau akhirnya kan?”” Ya ayah, aku tau.. aku akan dapat surga yang indah yang lebih indah dari telaga ini … sekarang aku mengerti … terima kasih ayah, aku akan tegar saat yang lain terlempar ”Sang ayah hanya tersenyum sambil menatap wajah anak kesayangannya.
oleh Paranggi Resmoko Sinaga pada 15 November 2010 jam 10:21